Minggu, 26 November 2017

ARTIKEL ANALISIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN KARAKTER

PERAN GURU DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BAGI PESERTA DIDIK
Oleh: Ita Syazwanti
Universitas Negeri Malang

Abstrak: Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah pelaksanaan nilai-nilai tersebut melibatkan kerjasama dari berbagai pihak seperti keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat luas dalam pelaksanaannya. Tujuannya sebagai penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Peran guru sangat vital dalam pelaksanaan dan penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik
Kata Kunci: pendidikan, karakter, peran guru, peserta didik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Isu adalah masalah yang dikedepankan, untuk selanjutnya ditanggapi, ditindak lanjuti dan sebagainya, dalam dunia pendidikan semakin banyak isu-isu kebijakan pendidikan yang bermunculan yang menuai pro dan kontra di dalam masyarakat umum. Masalah yang ramai diperbincangkan saat ini adalah pendidikan karakter dimana karakter anak bangsa mulai tergerus oleh perkembangan zaman, serta tidak diimbangi dengan peran serta lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat umum dalam mengupayakan hal tersebut. Banyaknya kasus – kasus yang menyangkut tentang rendahnya moral dan etika , korupsi terjadi diberbagai belahan masyarakat hingga ke pejabat tinggi negara, peredaran narkoba yang semakin pesat, banyaknya tawuran antar pelajar, munculnya geng-geng pelajar, dan juga maraknya kasus bullying di kehidupan langsung maupun media sosial yang akan berlanjut kepada kekerasan antar pelajar. Mundurnya pendidikan karakter, membuat kita bertanya-tanya lalu bagaimana cara kita menghidupkan kembali dan melalui kegiatan-kegiatan pendidikan seperti apa kita dapat memberikan dan menanamkan pendidikan karakter dalam diri peserta didik. Dalam hal ini diperlukan membuat suatu kebijakan yang berasal dari pengajuan alternatif pemecahan masalah dari seorang analis.


Latar Belakang Masalah
            Dewasa ini, wacana pendidikan sangat banyak bermunculan dan telah banyak diperbincangkan di dunia pendidikan maupun di masyarakat umum. Pendidikan karakter menjadi pembahasan yang paling ramai pada saat ini. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, yang melibatkan kerjasama dari berbagai pihak seperti keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat luas dalam pelaksanaannya. Pembentukan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan, keharmonisan, dan keseimbangan. Dengan demikian, keluarga sebagai lingkungan pembentukan pendidikan karakter pertama dan utama harus benar-benar lebih diutamakan, agar kelak pada lingkungan sekolah peserta didik memiliki bekal karakter yang positif. Peran lingkungan sekolah yang dianggap sebagai tempat yang efektif untuk membentuk karakter peserta didik. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang berbunyi bahwa ‘’Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’’. (Sisdiknas, 2003:7)
            Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu (Asmani, 2013:42). Namun, pada kenyataannya banyak para peserta didik yang mulai kehilangan nilai-nilai moral mereka, dengan begitu tujuan pendidikan nasional tidak akan tercapai apabila tidak ada tindak lanjut mengenai masalah penanaman pendidikan karakter. Maka dari itu peran guru sangat vital sebagai sosok yang diidolakan, serta menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi peserta didiknya.
Prasyarat : a). Tersedianya pembelajaran yang berorientasi kepada penanaman nilai-nilai moral b). Kurikulum yang sesuai c). Guru dapat memberi contoh perwujudan dalam berkepribadian dan berperilaku, dapat menjalankan lima peran sebagai konservator (pemelihara), inovator (pengembang), transmiter (penerus), transformator (penerjemah), organisator (penyelenggara) (Barnawi, dkk. 2012: 99).
Kenyataannya : a). Pembelajaran saat ini dianggap terlalu membosankan dan hanya berkutat kepada banyak teori saja meskipun telah diterapkan kurikulum 2013 b). Pada kenyataannya kurikulum yang diterapkan saat ini masih banyak kritikan dari berbagai belahan masyarakat, dikarenakan perubahan kurikulum ini terkesan tergesa-gesa dan guru juga belum sepenuhnya mengerti dan memahami akan sistematika dan aturan2 dari kurikulum tersebut  c). Guru sebagai contoh para peserta didik dalam bertingkah laku, namun banyak guru sekarang yang rendah moral dan etikanya dalam berperilaku dihadapan peserta didik, guru juga banyak yang belum menguasai materi, dan juga belum dapat melaksanakan kelima peran sebagai guru yang sebenarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan sebuah rancangan alternatif untuk memecah permasalahan pemerataan pendidikan. Dari sini analis akan menyusun atau merumuskan sebuah rancangan alternatif untuk pemenuhan penguatan pendidikan karakter.

Rumusan Kebijakan Masalah
Upaya-upaya dalam mengatasi masalah penguatan pendidikan karakter:
a). Adanya program pemerintah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah b). Ide Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi c).Kebijakan full day school 8 jam belajar
Masalahnya:
Program dan ide-ide tersebut diatas memang secara tersurat ditujukan untuk meningkatkan karakter peserta didik, seperti program pemerintah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang merupakan lanjutan dari ide Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dinilai baik dan sudah diterapkan ke beberapa sekolah di Indonesia, namun yang menjadi masalah disini adalah banyak pelaksanaan yang tidak disertai dengan keseimbangan dari peran-peran guru, siswa, keluarga, dan masyarakat di dalamnya. Karena untuk mencapai tujuan pendidikan karakter diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, bagaimana bisa jika pihak satu berkontribusi namun yang lain tidak ikut serta, tentunya akan sia-sia.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga menjadi masalah di dalam upaya penguatan pendidikan karakter ini,  banyak peserta didik yang mudah sekali percaya dan menelan mentah-mentah isu-isu buruk yang ada pada sosial media tanpa tau akar permasalahannya. Lalu kebijakan full day school dengan 8 jam belajar ini memang telah juga diterapkan di beberapa sekolah namun banyak yang mengkritisi dan tidak menyetujui program ini, karena beranggapan bahwa peserta didik akan merasa jenuh, dan bosan, ketika harus belajar selama 8 jam di sekolah sehingga waktu bersama keluarga menjadi berkurang.

Rumusan Alternatif Kebijakan
            Pemberdayaan guru melalui penyuluhan, seminar, pelatihan, lokakarya atau sebagainya  dapat meningkatkan pehamaham guru dan pengetahuannya akan sikap, nilai, dan norma yang harus diterapkan pada dirinya sendiri lalu kemudian untuk membimbing peserta didik melalui karakter yang positif , dapat juga diterapkan program best practice bagi peserta didik yang dibimbing melalui proses pembiasaan pola hidup, guru mendampingi peserta didik sehingga mereka merasa nyaman dengan proses tersebut, disinilah nanti yang selanjutnya akan menjadi landasan terciptanya pribadi-pribadi yang unggul, melalui pembiasaan ini nanti diharapkan peserta didik akan dapat melakukan perubahan dirinya kearah yang lebih baik (positif), sehingga nantinya dapat menjadi peserta didik yang berkarakter kuat. Dalam pembiasaan pola hidup ini guru menjadi pihak yang sangat dibutuhkan dalam membimbing peserta didik, guru akan menjadi pendukung utama dalam proses keberhasilan pendidikan karakter (Saroni, 2013: 186).

Analisis Potensi dan limitasi Alternatif Kebijakan
Dalam beberapa alternatif kebijakan yang telah ditawarkan oleh penulis sebagaimana yang dijelaskan diatas, tentunya terdapat potensi serta limitasi dalam alternatif kebijakan tersebut. Pada alternatif pertama, dengan pemberdayaan para guru melalui kegiatan seminar, pelatihan, penyuluhan, dan lokakarya dapat meningkatkan pemahaman guru terhadap pengetahuan nilai dan norma yang harus mereka terapkan dan laksanakan pada diri mereka sebagai seorang guru yang nantinya akan mereka terapkan kepada peserta didik, karena guru adalah teladan bagi siswa-siswanya dalam bertingkah laku. Namun limitasinya disini seminar, lokakarya, penyuluhan, dan pelatihan dianggap kurang efektif apabila tidak disertai dengan pengembangan berkelanjutan, kegiatan ini juga memakan waktu yang lama karena tidak akan bisa berjalan maksimal apa bila dilakukan hanya sekali dua kali, harus berkali kali secara bertahap, karena kemampuan yang dimiliki oleh guru memang berbeda-beda.
Pada alternatif kedua, dengan program best practice yang menerapkan bimbingan melalui pembiasaan pola hidup, dapat menjadi salah satu potensi untuk meningkatkan moral dan karakter peserta didik, dengan pembiasaan sikap-sikap dan tingkah laku yang positif maka peserta didik akan terbiasa, disinilah nanti yang selanjutnya akan menjadi landasan terciptanya pribadi-pribadi yang unggul. Dalam pembiasaan pola hidup ini peran guru menjadi pendukung utama dalam proses keberhasilan penguatan karakter. Disini juga terdapat limitasi, alternatif ini juga memakan waktu yang cukup lama tidak sekali dua kali peserta didik dapat terbiasa dan beradaptasi dengan pola-pola pembiasaan yang diterapkan kepadanya, jadi dibutuhkan kesabaran dan ketlatenan secara bertahap, apalagi peserta didik memiliki sifat dan kemampuan yang berbeda, guru harus dapat menyesuaikan keadaan peserta didiknya.

Rumusan Rekomendasi Kebijakan
            Seiring berkembangnya zaman dan diikuti dengan teknologi yang semakin canggih, banyak masalah-masalah pada dunia pendidikan, bergesernya nilai-nilai moral dan karakter telah marak terjadi, hilangnya dan lunturnya karakter bangsa menjadi ancaman bagi negara ini, maka dari itu perlunya penggalakan dan penguatan pendidikan karakter, terutama di dunia pendidikan, dengan guru berperan penting sebagai teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator bagi peserta didiknya.  
Dengan sistem pembiasaan pola hidup yang positif kepada peserta didik yang dilakukan oleh guru sebagai pendamping peserta didik dalam membiasakan dan mencontohkan sikap-sikap positif maka peserta didik akan merasa nyaman dan nantinya diharapkan dapat menjadi landasan terciptanya pribadi-pribadi yang unggul, khususnya dalam berkarakter. Alternatif kebijakan ini dipilih karena melalui pembiasaan peserta didik akan merasakan hal yang tidak dipaksakan kepadanya peserta didik akan merasa terbiasa dan selanjutnya otomatis dengam terbiasa mereka akan melaksanakan tanpa disertai beban, dan akan terus berlanjut sampai kapanpun.

Simpulan
            Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah pelaksanaan nilai-nilai tersebut melibatkan kerjasama dari berbagai pihak seperti keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat luas dalam pelaksanaannya. Tujuannya sebagai penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Peran guru sangat vital dalam pelaksanaan dan penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik. Melalui sistem pembiasaan pola hidup yang positif kepada peserta didik yang dilakukan oleh guru sebagai pendamping peserta didik dalam membiasakan dan mencontohkan sikap-sikap positif maka peserta didik akan merasa nyaman dan nantinya diharapkan dapat menjadi landasan terciptanya pribadi-pribadi yang unggul, khususnya dalam berkarakter.

DAFTAR RUJUKAN
Barnawi, dkk. 2012. Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Saroni, Mohammad. 2013. Best Practice: Langkah Efektif Meningkatkan Kualitas Karakter Warga Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar Grafika.


1 komentar:

  1. Shop high quality quality Hyperallergenic Titanium Earrings
    Find best Hyperallergenic Titanium Earrings titanium forging at used ford escape titanium affordable trex titanium headphones prices. Shop with confidence and aftershokz trekz titanium buy online iron titanium token for a better price.

    BalasHapus

DISKRIMINASI PENDIDIKAN

DISKRIMINASI PENDIDIKAN TERHADAP KELOMPOK MARGINAL Dini Anisa Nur Aini Universitas Negeri Malang E-mail: dinianisa221@yahoo.com A...